Tahun 1977. Seorang pemudia 22 tahun, William "Billy" Stanley Milligan, ditangkap karena penculikan, perampokan, dan pemerkosaan tiga wanita di sekitar area kampus Universitas Negeri Ohio. Saat menjalani evaluasi psikiatri setelah penangkapannya, Billy bersikeras bahwa seorang pria bernama Ragen bertanggung jawab atas perampokan tersebut sementara seorang wanita bernama Adalana yang melakukan pemerkosaan.
Sebagaimana dikutip dari Time, pada saat kasusnya diadili, dokter telah menetapkan bahwa Ragen dan Adalana adalah dua dari 10 kepribadian alternatif yang ada dalam pikiran Billy sebagai akibat dari pelecehan fisik dan seksual yang parah yang diduga dideritanya di tangan ayah tirinya, Chalmer Milligan, ketika masih kecil. Billy lantas didiagnosis dengan 14 identitas tambahan.
Pada bulan Desember 1978, Billy dibebaskan dari kejahatannya dengan alasan kegilaan yang disebabkan oleh gangguan identitas disosiatif. Keputusan pengadilan tersebut merupakan yang pertama dan tetap kontroversial hingga hari ini. Netflix lantas mengeksplorasi kehidupan Billy dalam serial Monsters Inside: The 24 Faces of Billy Milligan yang dirilis pada 2021.
Kisah Billy lantas ditulis Daniel Keyes menjadi sebuah buku non fiksi berjudul The Minds of Billy Milligan. Dan buku ini menjadi dasar dari serial berjudul The Crowded Room yang dikomandoi Akiva Goldsman dan bisa disaksikan via Apple TV.
Akiva Goldsman adalah seorang penulis skenario peraih Oscar lewat film A Beautiful Mind di tahun 2002. Tapi Akiva juga menerima Razzie Award sebanyak 3 kali untuk kategori penulis skenario terburuk melalui film A Time To Kill [1997], Batman & Robin [1998] dan Transformers: The Last Knight [2018]. Dalam salah satu adegan di film A Beautiful Mind, kita bertemu dengan teman sekamar kuliah John Nash, yang menjadi teman seumur hidupnya. Namun lantas terungkap bahwa teman sekamar itu hanyalah imajinasi John semata. Pendekatan ini pula yang lantas dilakukan kembali oleh Akiva 21 tahun setelah A Beautiful Mind di The Crowded Room. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah pendekatan ini masih cukup pas untuk diadopsi di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini?
Dan pertanyaan ini sekaligus menjadi kegagalan terbesar dari The Crowded Room. Sebelum menyaksikan film/serial/miniseri, hampir pasti kita akan dipapar oleh sekelumit informasi tentang karya tersebut. Dan tentu saja kita tahu bahwa The Crowded Room akan mendasarkan kisahnya pada tokoh utama dengan kepribadian ganda. Namun mengapa Akiva mencoba menyimpan misteri untuk sebuah kisah yang sudah diketahui publik ketimbang mencoba melakukan pendekatan baru yang segar dan menarik?
Sejak awal The Crowded Room dibuka, kita langsung berhadapan dengan sebuah peristiwa menegangkan yang menjadi pusat dari semesta cerita. Kita melihat Daniel [diperankan dengan gugup oleh Tom Holland] yang berlari kencang bersama teman wanitanya, Ariana, di sekitar Rockefeller Center, New York. Kita lantas tahu bahwa Daniel hendak mengejar seseorang yang ditunjuk oleh Ariana. Namun ketika Daniel begitu dekat dengan orang tersebut, tangannya mendadak kelu. Pistolnya pun direbut oleh Ariana yang geram dan lantas kita tahu pistol itu telah menyalak beberapa kali dan menelan korbannya.
Akiva selaku kreator masih mencoba berputar-putar selama beberapa episode dengan memperkenalkan kita pada orang-orang di sekeliling Danny: ibunya, Candy, dan ayah tiri yang tak disukainya, Marlin, 2 orang sahabatnya, Jonny dan Mike, cewek yang ditaksirnya, Annabelle dan bapak kost-nya, Yitzhak. Akiva bertindak lebih jauh dengan membawa Danny melintasi benua menuju London mencari ayahnya dan kelak bertemu dengan rekan bisnis ayahnya bernama Jack. Semuanya dipaparkan lewat tuturan Danny kepada psikiater, Rya Goodwin [dimainkan dengan cemerlang oleh Amanda Seyfried]. Dan hingga beberapa episode kita masih belum tahu cerita akan bermuara ke mana.
Padahal bisa jadi akan lebih baik jika Akiva memusatkan ceritanya justru pada upaya Rya membongkar bagaimana Daniel melakukan kejahatan demi kejahatan atas nama gangguan mental yang dimilikinya. Sedari awal kita semestinya diperlihatkan bahwa Rya memahami apa yang terjadi pada Daniel, bersimpati padanya dan membantu pengacara menyusun pembelaan berdasar atas gangguan mental yang dimiliki Danny. Dengan demikian The Crowded Room tak perlu bersusah payah menyimpan misteri untuk sebuah kisah yang sudah diketahui luas oleh publik. Dan struktur keseluruhan cerita dari 10 episode serial akan berubah drastis dan bisa jadi akan terasa tertata lebih baik.
Sayang memang kisah semenarik ini menjadi sedemikian membosankan ketika dituturkan dengan cara yang tak inventif. Akiva semestinya melakukan terobosan ketika mengadaptasi buku non fiksi dari Daniel Keyes dan jika perlu mengambil langkah-langkah revolusioner demi membuat kisah ini menjadi jauh lebih menggugah ketika menjadi sebuah produk audio visual. Justru karena dituturkan dengan cara membosankan, niat Akiva agar kita sebagai penonton berempati pada Daniel pun hilang lenyap begitu saja.
THE CROWDED ROOM
Produser: Michael Schaefer, Kata Weber
Sutradara: Brady Corbet, Mona Fastvold, Kornel Mundruczo, Alan Taylor
Penulis Skenario: Akiva Goldsman, Suzanne Heathcote, Gregory Lessans, Henrietta Ashworth, Jessica Ashworth, Cortney Norris
Pemain: Tom Holland, Amanda Seyfried, Sasha Lane

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY