Home FILM Untung Ada Barry Prima

Untung Ada Barry Prima

Film Badut Gendong [2026]

38
0
SHARE
Untung Ada Barry Prima

Tahun 1978. Untuk pertama kalinya publik Indonesia berkenalan dengan Barry Prima di film berjudul Primitif. Tak sekedar bertampang bule dan ganteng, Barry juga dikaruniai keterampilan beladiri.

Barry lantas dikenal sebagai salah satu bintang film dengan keterampilan beladiri mengagumkan. Kita melihat aksinya dalam puluhan film sejak tahun 1978 – 1999. Pasca film Indonesia mati suri dan kembali bangkit di awal tahun 2000-an, Barry juga muncul dalam sejumlah penampilan nan mengesankan. Salah satunya sebagai supir taksi di debut penyutradaraan Joko Anwar, Janji Joni [2005]. 

Tapi kita baru melihat kembali Barry beraksi dalam film horor-thriller berjudul Badut Gendong arahan Charles Gozali. Charles sudah diakui keterampilannya memainkan adegan-adegan aksi yang tak sekedar pamer kelenturan namun juga secara visual bisa memanjakan mata. Paling tidak hal tersebut sudah diperlihatkannya dalam film horor Islami, Qodrat, yang sukses besar di tahun 2022. Badut Gendong diniatkan lahir sebagai semacam spin-off bagi semesta Qodrat. Namun apakah Badut Gendong bisa semenarik Qodrat yang menurut saya masih jadi film horor Islami paling menarik dalam 5 tahun terakhir?

Qodrat sukses secara artistik terutama karena skenario dirakit secara meyakinkan oleh trio penulis Gea Rexy, Aasaf Antariksa dan Charles sendiri. Sedari awal kita tahu siapa karakter utama di cerita ini, apa yang diinginkannya, apa saja hambatan demi hambatan yang harus dilaluinya demi mendapatkan keinginannya. Namun berbeda dengan Badut Gendong yang justru seperti kebingungan mengarahkan ceritanya untuk berpihak ke siapa. Betul memang, cerita berpusat pada Darso yang melakukan balas dendam sepanjang film ke orang-orang yang dianggap menginjak-injak harga dirinya sebagai manusia. Namun cerita juga memberi ruang besar pada karakter Ki Kamboja [yang diperankan Barry] yang juga punya motivasi setali tiga uang dengan Darso. Seperti belum cukup, sub-plot warga desa yang memprotes sebuah perusahaan yang dianggap mengeksploitasi mereka juga terasa tak pernah cukup kuat untuk menopang plot utama. Jika di Qodrat semuanya terfokus pada aksi ustadz Qodrat, di Badut Gendong semuanya serba melantur ke mana-mana. Dan hingga film berakhir pun kita tak bisa diyakinkan dengan motivasi Darso membunuh banyak orang.

Badut Gendong dibuka dengan menarik. Pasangan suami istri pengamen, Darso dan Darsi, baru saja mengamen di sebuah stasiun kereta. Selepas beroleh sejumlah uang dari pengunjung yang mengapresiasi penampilan mereka, Darsi mendadak mual. Dan tahu lah kita bahwa Darso sebentar lagi akan menjadi bapak. Namun kebahagiaan mereka berumur pendek. Mereka segera saja bertemu tiga orang preman yang ingin merampas sedikit uang yang baru saja mereka peroleh dengan susah payah. 

Darso tak tinggal diam, ia mencoba melawan dengan segala upaya. Tapi mana bisa ia melawan tiga orang yang mungkin sepanjang hidupnya sudah terbiasa merampas sesuatu yang bukan haknya. Dan taruhannya adalah nyawa istrinya. Darsi mati seketika saat kepalanya terhempas ke rel kereta. Darso pun merasa nyawanya ikut melayang seketika. Dan dari sinilah teror badut gendong dimulai. 

Masalahnya Darso tak menuntut balas ke tiga orang preman itu. Ia malah membunuh-bunuhi sembarang orang, bahkan kadang yang tanpa punya dosa terhadapnya sekalipun. Jadinya kita pun rasanya susah bersimpati pada karakter seperti ini. Akibatnya jelas, kita tak peduli apa yang Darso lakukan sepanjang film, kita malah peduli pada korban tak berdosa yang dibunuhnya.

Dan karena motivasi Darso tak semeyakinkan yang kita bayangkan, dengan mudah kita menggeser fokus melihat karakter lainnya. Dan kali ini saya melihat Ki Kamboja. Dengan adegan pertama yang memunculkannya di layar dengan suara menggelegar dengan karisma yang tak tertandingi, susah bagi saya untuk tak tertarik pada karakter Ki Kamboja. Sayangnya memang screen time Ki Kamboja dengan penampilan sekuat itu justru hanya sedikit. Saya memahami kemarahannya, saya memahami kesakitannya, saya memahami bagaimana ia berusaha bertahan hidup untuk memberi pelajaran bagi mereka yang menginjak-injak harga diri dan martabat warga desa.

Jujur saja saya bertahan menyaksikan Badut Gendong yang terasa semakin lama semakin membosankan hanya karena Barry Prima. Saya menunggu apa yang kiranya akan dilakukannya, apa yang kiranya akan terjadi padanya. Dalam sebuah adegan mendebarkan, saya bisa bernapas lega bagaimana Badut Gendong bisa membayarkan rentetan kesalahan yang dilakukannya di awal dengan sebuah adegan yang “menyatukan” Darso dan Ki Kamboja. 

Sampai hari ini saya masih penasaran. Mengapa aktor selevel Barry Prima tak banyak digunakan jasanya di film Indonesia hari-hari ini? Tapi paling tidak penampilannya di Badut Gendong memuaskan kita yang menunggu kapan sang aktor kembali bisa bertarung dalam sebuah film yang bisa menempatkan dirinya dengan tepat. Untung Charles memilih Barry di film ini. Untung ada Barry Prima!


BADUT GENDONG

Produser: Linda Gozali
Sutradara: Charles Gozali
Penulis Skenario: Asaf Antariksa, Charles Gozali, Dharma Putra PN
Pemain: Marthino Lio, Clara Bernadeth, Barry Prima

Video Terkait: