Home FILM Cinta Segitiga Yang Menghantui

Cinta Segitiga Yang Menghantui

Film 3-Iron [2004]

1
0
SHARE
Cinta Segitiga Yang Menghantui

Kegilaan saya terhadap berbagai jenis film dimulai di usia yang sangat muda. Saya masih ingat, tatkala saya duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu merengek ditemani orang dewasa agar bisa ke bioskop. Karena terbiasa memirsa beragam jenis film, referensi film saya serasa makin bertambah dalam lima tahun terakhir. Dalam masa ini, saya juga mulai menyiapkan diri menerima berbagai ‘pengucapan baru’. Maka saya bisa asyik saja memirsa Run Lola Run (1998) arahan Tom Tykwer yang memusingkan bagi sebagian orang. Juga betah menikmati ‘kegilaan’ Quentin Tarantino dalam Pulp Fiction (1994). Atau menjadi saksi ‘kesintingan’ Memento (2000) garapan Christopher Nolan. Dan puncaknya ketika bisa bertahan dan kagum atas karya Alejandro Gonzales Inarritu, 21 Grams (2003).

Saya pikir tak ada lagi film yang bisa membuat saya terpana setelah itu. Tapi sekarang, saya harus mengoreksi pemikiran saya. Kim Ki-duk dengan 3-Iron (2004) sukses membuat saya takjub dan terdiam diri beberapa lama setelah menontonnya. Ini kisah cinta biasa sebenarnya. Kisah cinta segitiga. Tapi menjadi luar biasa ketika sutradara membuat tokoh utama prianya tak mengucapkan dialog sama sekali. Bukan, bukan karena dia bisu. Ini adalah akal–akalan sutradara untuk menantang diri, memaksimalkan gesture, dan optimalisasi pergerakan kamera. Premis-nya saja sudah mengundang keingintahuan. Seorang pemuda setiap hari meletakkan flyer di gagang pintu rumah yang dilewatinya. Beberapa lama kemudian, jika flyer tersebut tidak tersentuh, ia memutuskan untuk menerobos rumah itu. Di situ ia makan dan tidur. Ia pun membersihkan rumah yang ditinggalinya, mencuci pakaian pemilik rumah hingga menyirami tanamannya. 

Hal yang sama dilakukannya berulang–ulang, hingga suatu ketika, ‘kecelakaan' terjadi. Ia masuk ke rumah yang ternyata sedang berpenghuni. Penghuninya adalah seorang perempuan muda. Wanita itu tampak tertekan dan depresi akibat perlakuan kasar suaminya. Kita pun bisa menebak bahwa keduanya jatuh cinta, lalu sang pemuda membawa kabur si perempuan dari rumahnya.

Kalau mau dilanjutkan, sekali lagi ceritanya masih bisa diikuti. Karena pasangan ‘baru’ ini melanjutkan ritual sang pemuda. Merekamemasuki rumah yang ditinggali penghuninya. Tentu saja skenario perlu konflik untuk menghidupkan cerita, hal inilah yang dimanfaatkan Ki-duk untuk menguatkan teorinya tentang mimpi dan kenyataan. Bingung?

Sebenarnya, 3-Iron sama sekali tidak sukar dinikmati. Ia punya three-act laiknya film Hollywood. Yang membuatnya ajaib adalah minimnya dialog itu. Sampai akhir film, si pemuda tak bersuara sama sekali. Sementara si perempuan hanya berucap tak lebih dari 3 kata. Jadinya film ini memang ‘menghantui’, karena merasuki pikiran setelah menontonnya. Kita mengerti apa yang menimpa tokoh–tokohnya, namun kita diajak Ki-duk memasuki labirin–labirin pikiran yang dibuatnya. Jadinya memang 3-Iron akan sangat berpeluang menjadi karya yang multi-interpretasi. Ini contoh film yang sungguh menarik untuk didiskusikan.

Lantas, apakah 3-Iron adalah karya berkualitas? Kembali lagi hal tersebut bergantung dari pengalaman dan referensi penontonnya. Saya menganggap 3-Iron adalah karya yang challenging, juga menorehkan cabang–cabang pemikiran baru. Saya tak bisa bilang menyukai karyanya kali ini atau tidak, tapi saya berani merekomendasikan film ini ke penonton dengan kapasitas tertentu: penonton yang senantiasa membuka diri untuk menerima hal baru dan penonton yang bisa menghargai pendapat orang lain.

Film 3-Iron menghargai kemerdekaan berpendapat. Film tak punya pola/patokan atau nilai–nilai pasti. Siapapun boleh mengeksplorasi film dengan kebebasan personal dan akan sangat menggugah jika salah satu hasilnya adalah karya semenarik 3-Iron.

Video Terkait: