“Burung jalak berbeda dengan burung lainnya. Ketika mereka kawin, mereka membangun dan melindungi sarangnya bersama-sama. Mereka bahkan memberi makan anak-anak mereka bersama-sama. Mereka tidak ditakdirkan hidup di dunia ini sendirian.”
Tiap orang punya cara masing-masing mengatasi duka. Apalagi jika terkait dengan kematian mendadak. Saya ingat puluhan tahun lalu ketika ibu saya meninggal karena kecelakaan mobil, dunia saya mendadak runtuh. Dua minggu saya sulit bangun dari tempat tidur karena tak bisa membayangkan hidup tanpa kehadiran ibu.
Jack menghadapi duka dengan cara depresi dan ingin mengakhiri hidupnya. Sementara istrinya, Lilly, memilih untuk menyimpan dukanya rapat-rapat hingga seekor burung jalak masuk ke dalam hidupnya.
The Starling punya ide luar biasa tentang bagaimana keberadaan seekor burung jalak mengingatkan kembali Lilly dan Jack tentang bagaimana keduanya seharusnya menyikapi hidup. Filosofi hidup burung jalak memang mengagumkan, terlebih bagi kita yang baru pertama kali mengetahuinya.
Alam memang selalu punya cara untuk mengajarkan kebijaksanaan pada kita. Bahkan melalui seekor burung kecil, kita belajar bahwa pernikahan itu mesti diupayakan bersama melalui kerjasama.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY