Home FILM Frances dan Malcolm Pergi Ke Paris

Frances dan Malcolm Pergi Ke Paris

Film French Exit [2020] - Tayang di Prime Video

4
0
SHARE
Frances dan Malcolm Pergi Ke Paris

Tahun 2020. Di tengah pandemi yang mencekam, serial Emily in Paris mendatangi rumah para pelanggan Netflix di seluruh dunia dan membawa mereka ke sebuah kota indah dan sempurna: Paris.

Di mata Emily dan kreator Emily in Paris, Paris adalah sebuah keindahan dan kesempurnaan. Sebuah kombinasi yang bisa dengan mudah memikat siapapun yang datang dan akhirnya terjebak di dalamnya. Selama 3 musim akhirnya memang Emily merasa Paris adalah kota kedua yang dicintainya setelah kampung halamannya dan memutuskan untuk terus mengejar impian dan cintanya di sana.

Paris memang didesain oleh Haussman di abad 19 menjadi sebuah kota yang direkonstruksi secara menyeluruh, konsisten dan cemerlang di sana-sini. Cahayanya berkilauan ke segala arah dan mudah membutakan mata. Tak saja Emily, bisa jadi banyak Emily-Emily lainnya yang akhirnya juga terjebak di kota itu.

Tapi bagi Frances Price, seorang janda kaya dari Manhattan, Paris adalah sebuah pelarian. Ketika menerima sebuah kenyataan dari penasehat keuangannya bahwa ia akhirnya bangkrut dan harus menjual segala aset yang dimilikinya, Frances memilih meninggalkan kenyamanan Manhattan dan terbang ribuan kilometer menuju Prancis. Dan Paris baginya adalah tempat untuk menghabiskan sisa-sisa uangnya sebelum ia mati, begitulah yang selalu direncanakannya namun tak pernah terjadi.

Maka Frances bersama anaknya Malcolm berdomisili di Paris di sebuah apartemen milik sahabatnya, Joan. Sesungguhnya Frances tak punya rencana apapun dan Malcolm hanya mengikuti ibunya tanpa penolakan sedikit pun. Frances yang digambarkan sejak adegan pembuka sebagai seseorang dengan keliaran yang elegan menjadikan Paris semata seperti kota-kota lainnya. Tak ada alasan khusus baginya berada di Paris. Juga tak ada hal-hal yang dirasakannya perlu dikunjunginya selama hari-hari pertamanya berada di salah satu kota tercantik di dunia itu.

Saya membayangkan apa jadinya jika Emily dan Frances bertemu. Janda kaya yang sudah kehilangan gairah hidup bertemu dengan perempuan muda dengan ambisi berapi-api. Mungkin saja Emily akan bisa menggairahkan lagi hidup Frances yang dirasakannya sudah layu. Atau bisa saja justru Frances membuat Emily melihat ulang rencana-rencana hidupnya di Paris.

French Exit yang bisa disaksikan di Prime Video ini tak berbicara hal-hal besar. Ia hanya membiarkan penonton memasuki masa-masa redup dari seorang janda kaya dengan kecantikannya yang masih terpancar dengan kuat. Dan di tangan Michelle Pfeiffer, Frances memang menjadi perempuan multidimensi dengan segala kelakuannya yang seringkali tak bisa dimengerti, dengan arogansi yang seringkali tak bisa disembunyikannya dan kesinisannya memandang hidup. 

Tapi kita juga melihat Malcolm yang masih muda dengan masa depan yang cemerlang. Seorang anak yang seperti kehilangan minat untuk mengejar cita-citanya dan memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktunya untuk ibunya seorang. Meski seorang perempuan yang dicintainya rela terbang dari Amerika ke Prancis untuk dirinya, Malcolm tetap saja lempeng. Nyaris sama seperti ibunya yang memandang hidup biasa-biasa saja.

Sayang sekali memang dalam durasi 113 menit, French Exit seperti tak tak tahu harus memfokuskan ceritanya ke mana. Hubungan ibu dan anak tak pernah benar-benar menjadi sorotan, hubungan ibu-anak dan Paris juga tak pernah benar-benar dibahas. Dan satu-satunya alasan yang membuat kita bertahan hingga akhir film adalah kecemerlangan akting Michelle. Di usianya yang sudah menginjak 65 tahun, ia masih menerangi sepanjang durasi film dan membuat kita betah menunggu apa lagi yang akan dilakukan karakter yang diperannya.

Lucas Hedges yang memainkan Malcolm yang biasanya berakting menarik juga tak bisa berkelit dari lemahnya karakterisasi yang diberikan skenario padanya. Tapi menariknya, bersama Michelle, Lucas masih bisa tampil mengesankan meski kita mungkin kesal melihat karakternya yang skeptis.

Manhattan, Paris, mungkin juga Jakarta, bisa jadi adalah sekedar kota bagi Frances. Ambisinya pada hidup sudah lenyap, semangatnya terlihat luntur dan mungkin tak ada lagi yang tersisa pada dirinya. Dan bisa jadi ia melihat bahwa momentum habisnya uang yang dimilikinya juga menjadi penanda bahwa tak ada lagi yang tersisa dari dirinya. Sepanjang hidup ia tak pernah bekerja, ia hanya dikenal sebagai istri seseorang dan menjadikannya seorang sosialita. Ia hidup di dunia mimpi dalam jangka waktu yang lama dan untungnya ia masih bisa menerima kenyataan ketika akhirnya ia memijakkan kakinya di dunia nyata.

Saya membayangkan Frances, mungkin juga Emily, bertemu dengan penyair Prancis, Arthur Rimbaud, di Paris. Dan sayup-sayup kita mendengar Arthur memekikkan kata demi kata yang kini menggema di seluruh dunia.
Penyair menjadikan dirinya seorang penjelajah melalui kekacauan akal sehat yang panjang dan luar biasa dari semua indranya. Semua bentuk cinta, penderitaan, kegilaan; dia mencoba menemukan dirinya sendiri, dia menghabiskan semua racun dalam dirinya, hanya menyimpan intisarinya.”

Video Terkait: