Home FILM Jalanan

Jalanan

Film Street Society [2014]

2
0
SHARE
Jalanan

Sejumlah drama terjadi di jalanan.

Dari Daniel Ziv, kita diperlihatkan potret jalanan sehari-hari yang banyak kita lihat di televisi. Lewat Jalanan, dokumenter musik yang dibesutnya, kita diajak berkenalan dengan 3 pengamen : Boni, Ho dan Titi. Kita melihat bagaimana mereka bergulat dengan kehidupan di jalanan sekaligus berinteraksi dengan iklim ibukota yang dinamis dan sesekali mengejutkan.

Lewat Street Society, Awi Suryadi memperlihatkan bahwa jalanan bukan hanya milik mereka yang termarjinalkan. Jalanan bukan hanya milik Boni, Ho dan Titi yang mengais rejeki disana, tapi juga milik Rio, Nico dan Yopie dengan strata sosial yang jauh diatas mereka. Rio dan kawan-kawan memanfaatkan jalanan sebagai sarana memuaskan adrenalin ke titik maksimal. Dengan mobil seharga milyaran rupiah, mereka berebut menjadi raja jalanan dalam semalam.

Rio [Marcel Chandrawinata] dalam Street Society adalah potret anak muda masa kini yang tak perlu bekerja keras. Gaya hidup jetset dijalaninya tanpa merasa bersalah. Dengan gampang ia beroleh perempuan, tapi ia hanya peduli mobilnya, tak peduli perasaan perempuan yang ditidurinya. Hingga suatu saat ia bertemu Karina [Chelsea Islan, dengan kualitas loveable-ity setara Mariana Renata]. Dari sini cerita bertitik tolak. Karina tak ingin menjalani kehidupan penuh debar dengan Rio yang ugal-ugalan di jalanan. Rio terlanjur jatuh hati pada perempuan ayu yang “berbeda” dari cewek yang biasa dikenalnya. Ia bahkan bersedia menyingkirkan hasratnya mengemudikan mobil dengan kecepatan super di jalanan raya. Tapi selalu ada rintangan untuk sebuah niat baik. Rintangan seperti apa yang akan menghalangi kisah cinta mereka?

Agasyah Karim dan Khalid Kashogi yang menulis skenarionya paham betul bahwa cerita tak bisa bersandar pada benda mati, seperti mobil mentereng. Film adalah tentang interaksi manusiawi. Premis yang se-formulaik itu masih bisa ditarik ulur dan dikembangkan dengan asyik. Ia memberi ruang pada perkembangan karakter yang bisa dilihat oleh penonton. Memang tak sempurna, tapi upaya melakukannya di tengah film hiburan seperti ini perlu diapresiasi. 

Skenario juga memberi kesempatan bagi sejumlah karakter untuk bersinar. Seperti Nico [Edward Gunawan] yang tampil dengan dandanan over-the-top, perangai yang over-acting namun dengan dialek Surabaya yang khas. Di sejumlah adegan terasa difungsikan sebagai ice-breaker dan cukup berhasil.

Ruh kehidupan kaum jetset berhasil ditangkap dengan cukup cermat oleh Awi Suryadi melalui penanganan artistik yang pas, pergerakan kamera yang variatif dan terasa mewah hingga ilustrasi musik yang berdentam-dentam. Ada upaya cukup kuat dari filmmaker-nya untuk menghasilkan tontonan menghibur dengan kualitas maksimal.

Tapi apa yang bisa kita pelajari dari Street Society? Yang bisa kita petik dari pergumulan para tokoh-tokohnya menjadi raja jalanan dalam semalam? Tak ada. Dan itu tak salah. Film ini sepertinya memang diposisikan sebagai film hiburan semata dengan production value yang terjaga. Jangan bandingkan dengan Jalanan yang mungkin terasa ambisius karena mencoba mengaitkan berbagai hal dengan kondisi negeri terkini. Dan karenanya tugasnya juga selesai. Ia berhasil menghibur penontonnya dengan baik, dengan logika cerita yang juga terjaga cukup baik. Ia tak mencoba menceramahi penonton dengan khotbah yang tak bersinergi dengan materi filmnya. Lantas apalagi yang bisa kita harapkan?

Video Terkait: