Home FILM Setelah Sukses Uang Panai 7 Tahun Lalu, Apa Yang Dicapai Film Makassar Kini?

Setelah Sukses Uang Panai 7 Tahun Lalu, Apa Yang Dicapai Film Makassar Kini?

Film Mappacci [2023]

3
0
SHARE
Setelah Sukses Uang Panai 7 Tahun Lalu, Apa Yang Dicapai Film Makassar Kini?

Tahun 2016. Film Uang Panai dirilis terbatas di bioskop dan beroleh sukses besar. Dan sejak itu Makassar diperhitungkan dalam industri film nasional.

Era digital menandai demokratisasi dalam banyak hal termasuk dalam soal produksi film. Memproduksi film semakin mudah dan semakin murah setelahnya. Jika sebelumnya produksi film harus menggunakan material 35/16 milimeter yang menghabiskan biaya hingga milyaran rupiah dari bahan baku hingga proses akhir, kini dengan sistem digital, biaya produksi terpangkas berkali-kali lipat. Dan tentu saja kemudahan ini menggairahkan sineas daerah. Seperti Makassar misalnya.

Sejak kebangkitan kembali film Indonesia di awal tahun 2000, Makassar memang menjadi salah satu daerah yang mendatangkan banyak penonton untuk film Indonesia. Saya yang mengawali karir sebagai promoter film di Makassar di tahun 2002 melihat langsung betapa Makassar menjadi basis kuat bagi film nasional. Dan tentu saja potensi ini menggiurkan secara bisnis.

Dan setelah mulai intens memproduksi film sejak 2014, Makassar akhirnya membuktikan bahwa film lokal bisa menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri. Di tahun 2016, Uang Panai lahir dari insting bisnis duet Nicky Rewa dan Andi Syahwal Mattuju. Awalnya dirilis secara terbatas di bioskop Makassar dan beberapa daerah lain, hanya dalam 10 hari, film tersebut mampu beroleh hingga 300 ribu penonton. Dan hingga hari ini dengan perolehan lebih dari 600 ribu penonton, Uang Panai masih belum terkalahkan sebagai film terlaris dari Makassar.

Bicara laris tentunya berbeda dengan bicara soal kualitas. Uang Panai diproduksi dengan kenekatan luar biasa, naluri bisnis yang jeli dan promosi yang terbilang masif tapi secara kualitas, film tersebut sesungguhnya biasa saja. Bahkan secara teknis terhitung buruk. Bisa jadi karena diproduksi dengan biaya relatif tak besar sekitar 500 – 700 juta rupiah. Bandingkan dengan biaya produksi film nasional yang rerata mencapai 2 – 3 milyar rupiah. Tapi sesungguhnya sebagaimana kelemahan sebagian besar film Indonesia, kelemahan terbesar film-film Makassar pun bisa jadi terletak pada skenarionya.

Dan setelah 7 tahun berlalu, kini film Makassar mencoba masuk ke level yang berbeda. Di film terbaru berjudul Mappacci, sutradara Andi Burhamzah menggandeng penulis skenario, Oka Aurora. Ide cerita dari Andi Syahwal Mattuju diolah oleh penulis yang melejit dari film SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui dan serial viral Layangan Putus itu menjadi sebuah kisah yang manis dengan struktur skenario yang rapi yang jarang sekali ditemukan di produksi film-film Makassar sebelumnya.

Mappacci mengajak kita berkenalan dengan Tenri alias Nabila [diperankan dengan manis oleh Andi Batari Bintang]. Seorang perempuan yang mencoba peruntungannya menjadi novelis. Setelah berkali-kali disebut tak bisa menulis oleh para penerbit, Tenri berhenti berharap. Ia berpikir mungkin memang bukan takdirnya untuk menjadi novelis. 

Tapi takdir rupanya mengerjainya. Pulang dalam keadaan kecewa setelah kembali ditolak oleh penerbit, Tenri malah bertemu dengan Iwan [Cahya Ary Nagara yang dengan kegantengannya bisa membuat penonton perempuan menelan ludah]. Entah apa yang dilakukan seorang dokter seperti Iwan di penerbit tersebut tak ada yang tahu. Tapi penonton tahu bahwa Iwan jatuh cinta pada pandangan pertama pada Tenri. Dan rupanya Iwan adalah cinta pertama Tenri.

Sekali lagi takdir mengerjai Tenri. Di malam mappacci, Iwan menghilang. Seorang pengusaha muda bernama Erwin [Cipta Perdana nan charming] menjadi pangeran penyelamat yang mencoba memungut keping-keping hati Tenri yang masih berserakan. Seperti deja vu, Tenri kembali mengulang malam mappacci, kali ini dengan pasangan yang berbeda. Dengan cerdik, Oka Aurora mempermainkan hati penonton perempuan ketika melihat Tenri kembali diombang-ambingkan oleh cinta. Sebagian penonton perempuan mungkin iri dengan Tenri yang begitu mudahnya dijatuhi cinta. Tapi sebagian lainnya mungkin bersimpati pada Tenri soal seberapa sering takdir mengerjainya.

Di tangan Andi Burhamzah yang sebelumnya menyutradarai film Cinta Sama Dengan Cindolo Na TapeMappacci mengalir dengan mulus terutama berkat akting menarik dari trio Batari – Cahya – Cipta. Saya pernah bekerjasama dengan Cahya di film pendek pertama yang saya sutradarai di tahun 2019 berjudul Family Room. Sedangkan Cipta berakting pertama kali di film yang saya produseri, SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui, yang dirilis di bioskop Januari 2018. Selain skenario, sektor akting juga kerap kali menjadi masalah serius di film-film Makassar. Untungnya di “Mappacci”, kedua aktor terlihat nyaman dengan peran yang dimainkannya dan semoga masyarakat Indonesia bisa melihat bahwa kita sesungguhnya tak kekurangan aktor dengan kombinasi penampilan dan akting menarik. Cipta dan Cahya bisa dijadikan pilihan selanjutnya oleh para produser jika penonton mungkin sudah bosan dengan para aktor yang itu-itu saja yang bermain sebagai peran utama di film bioskop.

Mappacci menjadi tonggak penting bagi film Makassar menuju level berikutnya: bisa memproduksi film yang tak sekedar laris namun juga bisa dipertanggungjawabkan secara kualitas. Dan semoga setelah ini, film-film Makassar berikutnya juga akan semakin lancar bertutur dengan akting menarik dari para pemainnya sebagaimana yang sudah diperlihatkan di Mappacci.

Video Terkait: