Home FILM Suguhan Keanehan Negeri Tercinta

Suguhan Keanehan Negeri Tercinta

Film Alangkah Lucunya Negeri Ini [2010]

1
0
SHARE
Suguhan Keanehan Negeri Tercinta

Musfar Yasin dikenal sebagai penulis skenario yang membuat pilihan dengan setia memotret kehidupan marjinal. Perhatikan saja karya-karyanya, dari Ketika (2005), Get Married (2008) hingga yang terbaru Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010). Dan ia terbilang fasih membongkar seluk-beluk masyarakat kelas bawah yang mungkin jarang tersaji. Biasanya, kita hanya mendapat gambaran sepintas dari koran ataupun tayangan informasi di televisi. Namun Musfar mampu membongkar hingga ke titik terdalam. Dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) menjadi karyanya yang istimewa, sebab jelas terasa kontekstual dengan keadaan terkini. Ia nyinyir mengkritik berbagai kelucuan (atau keanehan?) yang terjadi dalam pelbagai sendi kehidupan kita. Musfar Yasin membentangkannya dengan telanjang, tepat di ujung hidung kita.

Betapa tidak, Musfar membenturkan masalah sekompleks pengangguran, pendidikan, hingga akhlak dalam satu kesempatan. Ini pekerjaan tidak ringan. Dan beban itu ada di tangan Deddy Mizwar sebagai sutradara. Jika salah eksekusi, kisah semenarik ini bisa jatuh jadi film membosankan dengan ceramah moral yang gamblang.

Bayangkan saja cerita seperti ini: Muluk (Reza Rahadian) yang sarjana manajemen tak kunjung mendapat pekerjaan. Hingga di sebuah kesempatan tak terduga, ia memergoki seorang pencopet. Perkenalan yang aneh ini malah membuatnya terjerumus ke dalam lingkungan mereka. Muluk jadi pencopet juga? Lebih dari itu. Ia malah mengorganisir mereka demi cita-cita kehidupan yang lebih layak. Ia juga melibatkan teman-temannya yang berpendidikan tapi menganggur. Semua berjalan lancar sampai orangtua mereka, akhirnya mengetahui bagaimana Muluk dkk memperoleh penghasilan selama ini.

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) punya sejumlah senjata ampuh untuk unggul sebagai film dengan kualitas memadai. Ia punya skenario bertema menarik yang ditulis brilian dan barisan aktor tangguh di dalamnya. Rasanya tak ada lagi film dalam negeri yang mampu menyatukan sejumlah aktor kaliber untuk berbagi layar. Deddy Mizwar himself, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Jaja Mihardja yang dipertemukan dengan generasi di bawahnya yang diwakili Reza Rahadian dan Asrul Dahlan. Dua faktor ini patut dimiliki sebuah film agar menjelma menjadi film yang baik. Tapi memang ini saja tak cukup. Film menyatukan berbagai elemen seni di dalamnya. Selain skenario dan departemen akting, juga ada editing, penataan kamera hingga ilustrasi musik. Jika semuanya mulus berpadu, jadilah film yang tak hanya berkualitas baik namun juga mampu pada fungsinya yang lain: menghibur penonton.

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) yang ceritanya setipe dengan Slumdog Millionaire (2008) harusnya bisa menjelma sebagaimana film yang dibesut Danny Boyle itu. Dengan pendekatan tidak kehilangan ciri khasnya oleh cerita yang memang sudah kuat, namun dipoles lebih tajam oleh sutradara. Ini yang tak dimiliki Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Di beberapa bagian, film ini berpanjang-panjang, tak diakali secara sistematis oleh sutradara. Fungsi editing pun terkadang hanya sekedar menyatukan gambar, namun tak memberi nyawa pada gambar yang sejatinya sudah menarik. Dan departemen musik pun harusnya lebih memainkan emosi pada film, padahal film ini sudah punya beberapa lagu soundtrack yang tak hanya menarik, namun juga menggugah perasaan. 

Tentu saja harapan agar materi sebaik ini bisa dibikin lebih baik lagi, menjadi cerminan bagi penonton demi mendapatkan film yang baik secara utuh. Jika dibandingkan dengan film domestik lainnya, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) berada jauh di depan. Sebagai aktor senior, Deddy Mizwar juga sangat baik dalam mengarahkan pemain. Nyaris semua pemain bermain baik, termasuk sejumlah aktor cilik yang berperan sebagai gerombolan pencopet. Dan sebuah pemandangan mengesankan menyaksikan Deddy dan Slamet Rahardjo bahu-membahu memainkan emosi penonton dalam sebuah adegan yang berpotensi menitikkan air mata. Juga sekali lagi perlu diberi tepuk tangan keras untuk ‘kegilaan’ Tio Pakusadewo yang meyakinkan sebagai bos copet. 

Yang terpenting dari semuanya adalah Alangkah Lucunya (Negeri Ini) seperti jadi tamparan buat kita. Betapa kita dikelilingi berbagai kelucuan (atau keanehan?) yang sebenarnya menjadi muara carut-marutnya kondisi terkini negara kita tercinta. Tapi kita hanya melihat, tak berbuat apapun. Dan akhirnya kelucuan itu menjadi tak lucu lagi dan keanehan itu terlihat normal saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Video Terkait: