Tahun 2022. Kreator Christopher Storer merilis serial The Bear. Dan setelahnya konsepsi saya tentang film/serial yang berfokus pada dunia kuliner tak sama lagi.
Serial The Bear yang tayang di Disney Plus mengagetkan saya bahwa dunia kuliner tak sebatas meracik masakan yang enak. Dunia kuliner juga tentang bagaimana mengelola manajemen yang efisien dan tentu saja bagaimana mengelola orang-orang yang menjalankannya.
Jeremy Allen White diserahi tanggung jawab untuk memikul beban terbesar kesuksesan The Bear. Tapi Jeremy tak bergerak sendiri karena ada skenario yang disusun sedemikian rupa sehingga kita memahami bagaimana awalnya Carmy terjun ke dunia kuliner, bagaimana ia mencoba menjauh dari keluarganya sejak awal dan bagaimana ia mencoba sekuat tenaga menjalankan bisnis restoran keluarga yang hampir runtuh.
Dalam 8 episode bertempo cepat dengan begitu banyak karakter lalu lalang, The Bear mencengangkan karena tak saja bisa menjalankan dramaturgi dengan memikat namun juga membawa penonton masuk ke sebuah dunia yang kita pikir kita kenal namun sesungguhnya tidak. Dalam 8 episode bertempo cepat bukan saja Carmy yang mendapat perhatian namun juga karakter-karakter lain di dalamnya sehingga kita bisa melihat mereka bukan saja sebagai sebuah unit namun sebagai sebuah keluarga.
Lantas bagaimana dengan serial Indonesia terbaru berjudul Luka, Makan, Cinta yang punya premis serupa? Tentu saja kreatornya tak bisa menghindari untuk dibanding-bandingkan dengan serial yang sudah memenangkan tak kurang dari 21 Primetime Emmy itu. Serial yang tayang di Netflix tersebut mengedepankan karakter sous-chef perempuan bernama Luka. Ia anak dari head chef, Sari, yang memiliki restoran Umah Rasa. Dinamika hubungan ibu-anak ini sesungguhnya akan menjadi poin pembeda serial ini dengan The Bear andai saja skenario lebih terampil membongkar hubungan mereka sejak awal. Bayangkan ibu dan anak berada di lini pekerjaan yang sama secara otomatis akan membuat sang anak akan terus menerus berada di bawah bayang-bayang ibunya. Juga bisa saja sang anak berusaha terus menerus mencari cara untuk menyenangkan hati ibunya. Tapi alih-alih mencoba memperlihatkannya, skenario hanya saja sibuk mengobrolkannya. Jadi susah juga kita bisa mengerti tekanan yang dialami Luka atas pencapaian ibunya mengelola dan mempertahankan Umah Rasa sekian puluh tahun.
Saya juga susah mengerti mengapa karakter Luka [diperankan oleh Mawar Eva de Jongh yang loveable] dibuat terus menerus menyebalkan. Mungkin saya punya bias jender karena saya tak terganggu melihat Carmy yang lebih menyebalkan lagi namun rasanya jika punya bos se-menyebalkan Luka di Indonesia ini, ia bisa serta merta ditinggalkan oleh siapapun. Dan skenario terus berusaha membuat kita maklum mengapa Luka bersikap sedemikian hingga ia pun ditinggalkan oleh sahabat terdekatnya.
Dalam 8 episode serial Luka, Makan, Cinta juga terasa beberapa karakter yang sesungguhnya bisa dikembangkan dibiarkan begitu saja. Karakter Ketut [dimainkan aktor senior, Asrul Dahlan] sebagai representasi warga asli Bali yang tak berbahasa lo-gue di serial ini justru ditampilkan ala kadarnya padahal akan sangat menarik jika misalnya dari sudut pandang Ketut bisa bicara soal pariwisata Bali hingga bisnis restoran yang sudah terlalu padat. Sayang sekali sudah menggunakan aktor sekelas Asrul namun tak dimanfaatkan dengan baik.
Serial ini juga terasa seperti punya 3 plot utama yang berusaha mencuri perhatian dan akhirnya bisa jadi menghalangi satu dengan lainnya. Selain plot dinamika ibu-anak, juga ada plot Luka dengan head chef baru, Dennis, dan tentunya plot upaya Luka mendapatkan bintang CRAFT [sejenis Michelin di dunia nyata]. Di beberapa episode skenario malah seperti melupakan plot soal bintang CRAFT itu karena terlalu berfokus pada plot lainnya.
Plot Luka dan Dennis sebenarnya juga punya potensi untuk membuat serial ini berbeda dengan serial yang membahas seputar dunia kuliner. Hanya saja skenario terlalu terburu-buru membuat keduanya saling menyukai satu sama lain, padahal jika cerdik menjaga ritme, penonton bisa dibuat terus berdebar sepanjang 8 episode menunggu apa yang akan terjadi dengan Luka dan Dennis di penghujung episode. Mawar dan Deva Mahenra [pemeran Dennis] adalah aktor tangguh yang sudah matang memainkan reaksi kimiawi, membuat penonton ingin tahu bagaimana keduanya mengungkapkan rasa, sayangnya skenario tak memberi mereka peluru untuk itu. Bahkan karakter Dennis pun nyaris tak berkembang dari episode awal hingga akhir. Sayang betul.
Tapi bukan berarti Luka, Makan, Cinta tak bisa dinikmati dengan baik. Layaknya makanan yang tersaji di meja, serial ini adalah 3 jenis makanan yang hanya terasa belum begitu padu. Jika diracik dengan lebih cermat, dengan kesabaran yang lebih, juga dengan riset yang lebih matang dan maksimal, bisa jadi kita akan melihat apa yang sesungguhnya betul-betul terjadi di dapur restoran-restoran favorit negeri ini. Bagaimana mereka meracik menu, memilih menu andalan hingga menghidangkannya ke piring para pelanggan di restoran. Kedelapan episodenya meski masih terasa lamban [utamanya episode 1 dan 2] namun kita masih bisa mencicipinya dengan asyik. Begitupun kita tentu saja perlu terus belajar melihat bagaimana serial-serial serupa dilahirkan di seluruh dunia dan kita bisa memilih untuk menjadikannya sebagai referensi seperti serial The Bear. Memilih perumpamaan makanan, Luka, Makan, Cinta bisa saja sudah dirasa cukup sebagai menu Indonesia namun masih belum cukup kuat untuk disodorkan sebagai menu global. Dan kita bisa selalu belajar di masa depan untuk melakukannya lebih baik lagi.
LUKA, MAKAN, CINTA
Produser: Musa Tambunan, Teddy Soeriaatmadja
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Penulis Skenario: Andri Cahyadi, Vanessa Gustomo, Nicholas Raven, Teddy Soeriaatmadja, Baskoro Adi Wuryanto
Pemain: Mawar Eva de Jongh, Deva Mahenra, Sha Ine Febriyanti

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY