Home SERIAL Teror Itu

Teror Itu

Serial Hijack [2023] - Tayang di Apple TV

3
0
SHARE
Teror Itu

Tahun 2001. Amerika diserang. Dua pesawat berpenumpang penuh ditabrakkan ke dua gedung pencakar langit di New York. Tak ada firasat apapun di pagi yang cerah itu. Tapi kita tahu setelah teror itu, Amerika tak akan sama lagi.

Serangan teroris pada 11 September 2001 adalah sebuah pertunjukan. Juga pernyataan. Atas tujuan apapun, keduanya dilakukan secara spektakuler agar seluruh dunia melihatnya. Dan kita tahu pertunjukan sekaligus pernyataan sebesar itu memang diniatkan untuk merenggut sebanyak mungkin nyawa. Dan lebih dari tiga ribu orang tewas di hari itu.

Serangan itu adalah sebuah pernyataan politik bagi Amerika. Sebuah pukulan telak yang sejatinya diniatkan agar Amerika bisa melihat kembali kebijakan politik yang selama ini dikajinya. Meski harganya semahal tiga ribu nyawa, Amerika rupanya bergeming.

Tapi teror di atas pesawat berisi lebih dari 200 penumpang yang melaju dari Dubai ke London di serial Hijack bukanlah sebuah pernyataan politik. Ia murni sebuah kepentingan ekonomi. Dan tak menyerang kebijakan politik sebuah negara. Dan justru itu mungkin terasa lebih mengerikan dibanding teror sejenis yang terjadi sebelumnya.

Tak ada “niat mulia” di balik teror itu. Tak ada iming-iming surga bagi para pelakunya. Tapi para penumpang, juga penonton, sempat mengira bahwa teror itu juga sebuah pertunjukan sebagaimana teror-teror lainnya. Tapi ternyata tidak. Serial 7 episode yang tayang di Apple TV itu menawarkan perspektif tak terduga dari sebuah terorisme. Dan kita terhenyak.

Dan Hijack bekerja efektif sebagai sebuah thriller. Dengan menempatkan Idris Elba di tengah pusaran masalah. Ia, Sam Nelson, adalah seorang negosiator bisnis yang selalu diterjunkan oleh perusahaan besar ketika kesepakatan bisnis mengalami deadlock. Tapi Sam tak pernah sekalipun berpikir akan berada di tengah-tengah masalah terberat selama hidupnya: menjadi negosiator dalam sebuah aksi terorisme.

Maka Hijack menggempur penonton tanpa memberi nafas sedikitpun selama kurang lebih 7 jam. Menariknya adalah skenario dengan cerdik membongkar kisah-kisah di balik para tokoh-tokoh yang ada di pesawat itu. Bagaimana Sam yang sedang mengalami masalah dengan mantan istrinya, bagaimana sang pilot yang berselingkuh dengan pramugari, juga mengulas bagaimana hubungan antara sesama teroris. Dan duet Jim Field Smith dan Mo Ali sebagai sutradara juga brilyan memperlihatkan interaksi dari begitu banyak karakter yang berada di dalam pesawat yang membuat Hijack tak terasa sekedar drama aksi pembajakan pesawat. Sejatinya Hijack juga menjelma sebagai a study of character terutama soal bagaimana aksi dan reaksi manusia ketika berhadapan dengan masalah hidup dan mati.

Ketika kamu berada di sebuah pesawat dengan para teroris yang siap menembakkan peluru dari pistol di tangannya, apa yang akan kamu lakukan? Reaksi paling normal adalah merasa takut setengah mati dan merasa malaikat maut sudah siap menjemput nyawa. Tapi masih ada golongan manusia yang mencoba mencari peluang untuk berkelit dari masalah tanpa mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi. Dan Sam Nelson berada di tengah-tengahnya dan mesti memberitahukan apa yang mungkin terjadi sekiranya tindakan-tindakan nekat dan ceroboh dilakukan.

Dan dalam penerbangan 7 jam dari Dubai ke London, dengan 200-an penumpang yang ketakutan dan kelaparan, apa yang kamu harapkan? Hijack memperlihatkan banyak sisi menarik yang selama ini luput diperlihatkan drama pembajakan sejenis. Sam Nelson memang menjadi pusat semesta cerita tapi skenario masih bisa memberi banyak ruang bagi karakter-karakter lainnya untuk masuk dan memperkaya cerita. Dan kita tahu keterampilan semacam ini perlu diapresiasi.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi salah satu penumpang di pesawat American Airlines AA11 yang lepas landas dari bandara internasional Logan di Boston menuju Los Angeles pada 11 September 2001 itu. Saya tak bisa membayangkan bagaimana menakutkannya situasi yang terjadi ketika tahu diantara 81 penumpang terdapat 5 orang teroris. Dan saya pun tak bisa membayangkan sekiranya Sam Nelson berada di pesawat itu, apa yang akan ia lakukan?

Teror adalah sesuatu yang tak pernah terduga. Kita hampir selalu tak pernah tahu apa penyebabnya, kita juga hampir selalu tak pernah paham mengapa orang-orang tak berdosa harus menjadi collateral damage dari aksi serupa. Tapi ketika itu terjadi, mungkin kita berharap seseorang seperti Sam Nelson ada di tengah-tengah kita. Seseorang dengan kemampuan negosiasi yang bertindak bukan untuk dirinya sendiri, yang beraksi dengan membahayakan dirinya sendiri, hanya dengan tujuan sederhana: ingin bisa kembali ke rumah dengan selamat dan memeluk mantan istri dan anaknya. 

Video Terkait: