Tahun 1986. Sutradara auteur, Teguh Karya, merilis salah satu mahakaryanya. Sebuah film berjudul Ibunda yang menampilkan salah satu akting paling cemerlang yang pernah ditampilkan di film Indonesia dari Tuti Indra Malaon.
Saya menonton ulang Ibunda berpuluh tahun setelahnya ketika mengajak mahasiswa saya dari SAE Institute berkunjung ke Sinematek beberapa tahun lalu. Dan menariknya adalah Ibunda terasa jauh lebih cemerlang dibanding ketika saya menyaksikannya di TVRI semasa masih duduk di bangku SD.
Salah satu fokus saya ketika menyaksikan Ibunda adalah bagaimana Tuti Indra Malaon menggunakan seluruh tubuhnya untuk menjadi sosok Ibu Rahim yang berada di tengah pusaran segala persoalan yang melingkupi keluarganya. Teguh Karya selaku sutradara dengan cerdik seringkali menempatkan Tuti dalam single frame yang membuat kita bisa lebih fokus melihat segala mimik dan gesture-nya.
Sosok ibu sebagai pusat semesta cerita kini juga ditampilkan oleh Jeihan Angga dalam film berjudul Just Mom yang tayang kembali di Bioskop Online. Berbeda dengan Teguh yang menggunakan sudut pandang kamera sebagai salah satu caranya bercerita, Jeihan menumpukan [hampir] seluruh filmnya pada Christine Hakim seorang.
Di awal tahun ini, publik dunia terhenyak ketika menyaksikan Christine muncul dalam salah satu episode serial favorit, The Last of Us, yang tayang di HBO Go. Dalam sebuah adegan pembuka yang sederhana, sang sutradara, Neil Druckmann, juga menumpukan seluruhnya pada akting Christine Hakim. Di tangannya, adegan sederhana ini berubah menjadi horor yang mengerikan yang terwakili dari mimik dan gesture Christine yang resah dan ketakutan dan akhirnya menciptakan standar untuk keseluruhan episode dalam serialnya.
Christine memang layak menjadi standar bagi pencapaian akting dalam sinema Indonesia. Dengan piala Citra terbanyak yang pernah dipegang seorang aktor, Christine mempresentasikan betapa akting telah menjadi darah dagingnya. Dalam Just Mom perhatian terbesar film memang ada pada sosok ibu yang diperankannya. Kita melihat seorang ibu yang mulai letih di masa tuanya, seringkali diterpa rasa rindu dengan anak-anaknya yang sibuk dengan kehidupan masing-masing dan menyembunyikan sakit yang dideritanya rapat-rapat.
Hingga seorang perempuan muda masuk ke kehidupannya tanpa sengaja. Murni, seorang ODGJ [Orang Dengan Gangguan Jiwa], yang dalam keadaan hamil menggelandang dibawanya pulang. Barangkali memang Semesta melihat betapa ibu masih ingin bermanfaat bagi siapapun. Maka Murni baginya bukan aib, juga bukan beban, tapi sebuah anugerah. Tapi tidak bagi anak-anaknya.
Anak-anaknya yang sibuk itu menganggap sang ibu akan kecapekan karena mesti merawat Murni. Padahal kita, penonton, melihat betapa mata ibu berbinar-binar setiap kali merawat Murni dengan telaten. Kita tak lagi melihat sosok Christine tapi betul-betul melihat sosok sejatinya ibu di depan mata kita. Sosok ibu yang selalu bersedia direpotkan oleh kita untuk perkara-perkara kecil, sosok ibu yang selalu bersabar dengan apapun yang kita lakukan, sosok ibu yang begitu pandai menyimpan perasaannya arapat-rapat.
Saya hanya punya ibu hingga usia 17 tahun. Ibu saya meninggal karena kecelakaan mobil saat hendak mengikuti pelatihan dari kantornya. Dunia saya runtuh seketika dan butuh puluhan tahun untuk sembuh dari luka. Menyaksikan Christine menjadi ibu yang ideal membuat hati saya hangat. Terkenang bagaimana ibu saya yang jago berjibaku antara kesibukan sebagai rumah tangga dan pegawai negeri sipil. Tak pernah sekalipun saya merasakan tak ada sarapan nasi goreng di pagi hari dan jajanan pisang goreng di sore hari sepulang sekolah. Dan ibu saya pun masih bisa memberi perhatian pada pelajaran yang ditekuni saya dan adik saya.
Selain menampilkan kecemerlangan akting Christine Hakim, Just Mom juga patut dipujikan atas keberanian memasukkan isu ODGJ ke dalam cerita dengan menarik. Menampilkan seorang perempuan ODGJ yang hamil tanpa tahu siapa yang menghamilinya adalah sebuah keberanian. Saya menyukai bagaimana skenario tak menghakimi Murni melalui karakter-karakter lainnya. Dan seperti ibu, kita pun melihatnya sebagai manusia biasa, yang butuh kasih sayang dan butuh perhatian selayaknya ibu hamil. Mungkin memang yang diperlukan Murni hanyalah seorang ibu dan begitupun ibu juga sesungguhnya memerlukan Murni agar ia merasa bahwa ia masih bisa bermanfaat bagi sesama.
Dan kita selalu bisa belajar dari sosok ibu baik dari film Ibunda maupun film Just Mom. Kita juga bisa belajar soal integritas seorang aktris ketika menerima tawaran peran sebagaimana yang dilakoni Tuti Indra Malaon dan Christine Hakim. Keduanya tak sekedar menerima peran tapi melakoninya penuh totalitas. Menggunakan seluruh tubuhnya, bernafas dan bergerak sebagaimana lakonnya dan mentransfer seluruh energi yang dimilikinya kepada penonton yang akan menangkap dengan baik tentang pesan yang ingin disampaikannya. Dalam sunyi dan sepi pun, kita bisa menangkap apa yang ingin dituturkannya.
“It’s what I learn from great actors that I work with. Stillness. That’s all and that’s the hardest thing.” [Morgan Freeman]

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY