Home FILM Film Horor, Adrenalin dan Kesenangan Dari Rasa Takut

Film Horor, Adrenalin dan Kesenangan Dari Rasa Takut

Film Cobweb [2023]

2
0
SHARE
Film Horor, Adrenalin dan Kesenangan Dari Rasa Takut

Tahun 1999. M Night Shyamalan merilis Sixth Sense dan membuat karirnya meroket di jagat sinema internasional. Dan buat saya setelahnya horor tak sama lagi.

Saya ingat betul betapa mencekamnya menyaksikan Sixth Sense hanya berdua dengan almarhum adik saya di rumah. Sebagai orang yang dikaruniai kelebihan bisa “melihat”, saya ketakutan setengah mati menyaksikan bagaimana teror dari film tersebut dimulai ketika karakter utamanya, bocah cilik Cole, berkata dalam nada lirih, “I see dead people ……”

Tapi menariknya setelah pengalaman nyaris traumatik itu, saya malah semakin menggemari horor. Ternyata ada alasan ilmiah di balik hal tersebut dan mungkin menjadi penyebab mengapa banyak dari kita begitu menyukai film horor meskipun pernah mengalami ketakutan yang amat sangat setelah menonton salah satu diantaranya. Menurut psikolog, Elizabeth Kaplunov, rasa takut memberi seseorang aliran adrenalin yaitu hormon yang dapat membuat seseorang merasa bersemangat, waspada dan responsif. Karenanya banyak dari penggemar film horor yang tetap bertahan di kursinya di bioskop meski merasakan detak jantungnya naik turun sepanjang durasi film, tak bisa menahan diri untuk tak berteriak, bahkan sebagian lagi memilih untuk menutup mata dan telinganya dalam sebagian durasi film.

Peneliti dari Aarhus University di Denmark meneliti alasan banyak orang bermain-main dengan rasa takutnya. “Dengan menyelidiki bagaimana manusia memperoleh kesenangan dari rasa takut, kami menemukan tampaknya ada kenikmatan yang dimaksimalkan, ujar salah satu peneliti sebagaimana dikutip dari Medical Daily.

Dari tahun ke tahun, sineas pun mencoba beragam cara untuk menakut-nakuti penonton. Tak lagi memunculkan karakter setan/hantu, kini beragam monster pun ditampilkan. Juga sebagian mencoba bermain-main dengan fobia. Cobweb yang dibesut Samuel Bodin mencoba mengawinkan formula tersebut dan hasilnya adalah teror tanpa henti sepanjang 88 menit durasinya.

Sama seperti Sixth Sense, Cobweb juga menampilkan karakter bocah cilik sebagai pemeran utamanya. Namanya Peter. Sekilas tak ada yang aneh dengannya. Ia berusaha normal meski tampak kesulitan beradaptasi dengan teman-temannya. Dan akhirnya membuatnya menjadi sasaran empuk dari perisakan. Berbeda dengan Sixth Sense dengan skenario rapi dan cermat mengupas hubungan Cole dan ibunya dan bagaimana ia menjalani hari-harinya, Cobweb justru tak mencoba menjangkau lebih jauh bagaimana hubungan Peter dengan kedua orangtuanya. 

Skenario yang ditulis Chris Thomas Devlin rupanya ingin fokus pada plot utama: bagaimana Peter bertahan dari teror suara-suara aneh yang mendatanginya setiap malam. Di sebuah rumah tua dengan seorang anak yang tidur sendirian di kamar yang cukup gelap, apa yang bisa kita harapkan? Jika pun suara-suara aneh itu tak ada, toh imajinasi anak kecil yang terperangkap dalam situasi seperti itu bisa saja akan memenjarakannya dalam ketakutan.

Tapi kita selalu tahu bahwa anak kecil selalu punya mekanisme bertahannya sendiri. Baik Cole maupun Peter tak mau menyerah pada apa yang sudah menjadi “takdir” yang harus mereka hadapi. Ketika Cole berhadapan dengan makhluk-makhluk gentayangan yang meminta pertolongannya, Peter pun menghadapinya ketakutannya dengan melakukan konfrontasi langsung terhadap suara-suara aneh itu. 

Dan kemudian kita, para penonton, menjadi Peter yang berada di tengah-tengah suasana mencekam. Suara-suara aneh itu tak sekedar lagi menganggunya dan membuatnya melukis permintaan tolong yang dikenali oleh gurunya, Nona Devine. Ia kini berwujud menjadi monster laba-laba dan akan amat sangat menakutkan bagi mereka yang punya sindrom arachnophobia. Untungnya memang Samuel menutupi lemahnya skenario, karakterisasi dan relasi tiap karakter dengan teror demi teror yang terus berdentum dan membuat penonton merasakan ketakutan dan kenikmatan di saat bersamaan. Ada cukup banyak momen dimana penonton akan tak kuasa untuk menahan diri untuk tak berteriak. Ada cukup banyak adegan yang potensial membuat penonton menjerit-jerit. 

Dan mungkin memang tugas film horor sesungguhnya cukup seperti itu. Ia membangun suasana secara perlahan, menjahit misteri dengan sabar, meluapkan kengerian demi kengerian dan pada akhirnya meledakkan ketakutan bagi penonton yang memang datang untuk menikmati ketakutannya sendiri. Untuk hal ini, Cobweb bisa jadi telah menunaikan tugasnya dengan baik.

 

COBWEB

Produser: Andrew Childs, Evan Goldberg, Roy Lee, Seth Rogen, James Weaver

Sutradara: Samuel Bodin

Penulis Skenario: Chris Thomas Devlin

Pemain: Woody Norman, Lizzy Caplan, Antony Starr

Video Terkait: